KARYA TULIS ILMIAH

Anda Ingin download KTI? Anda Ingin sebagai contoh dalam pembuatan KTI? Anda Ingin mempelajari bagaimana cara penyusunan kata, kalimat, baris, serta spasi dan lain sebagainya dalam KTI? semuanya lengkap disini..... Caranya Mudah...

Anda dapat mendownload KTI lengkap dan juga semua Password di KTI yang anda download tersebut. Contoh : "Gambaran Tingkat Pengetahuan Penderita Gastritis Tentang Penyakit Gastritis yang dirawat di Ruang Rawat Inap RSU Mayjen H.A. Thalib Kabupaten Kerinci Tahun 2005" dan masih banyak lagi judul Karya Tulis Ilmiah yang dilengkapi dengan Legalitas dari Instansi tempat penelitian seperti AKPER BINA INSANI SAKTI - KERINCI

Caranya : PERTAMA

Buat Daftar Judul Pesanan KTI yang anda inginkan kemudian Kirimkan ke Email "iwanzai.zai761@gmail.com atau iwanzai25@yahoo.co.id " atau via SMS ke No. 085266373754.

KEDUA :

Biayanya Murah.....! Hanya 40 Ribu untuk Satu buah Karya Tulis Ilmiah lengkap atau kirim pulsa 50 rb ke No. 085266373754 . Untuk pesanan awal minimal 2 buah Judul Karya Tulis Ilmiah (KTI) selanjutnya dapat di pesan satu persatu, sesuai dengan kebutuhan anda.

KETIGA :

Setelah Anda memesan, maka KTI lengkap akan di kirim langsung ke email Anda, dan untuk membukanya harus menggunakan password. Sedangkan Password tersebut akan di kirimkan lagi setelah anda melakukan pembayaran ke

BANK BRI UNIT MURADI

No. Rekening 5559-01-008460-53-1

Atas Nama :

HOLISA

12 jam setelah pengiriman Uang maka anda mendapatkan passwordnya.

TERIMA KASIH SEMOGA BERMANFAAT

Senin, 09 April 2012

gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan bidan dalam pelaksanaan manajemen postpartum di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2007

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan kesehatan yang merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dalam upaya membangun manusia seutuhnya yang dilakukan sedini dan seawal mungkin sejak manusia masih berada dalam kandungan. Perkembangan pembangunan kesehatan tersebut telah mengalami kemajuan yang bermakna dalam meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang dalam mencapai derajat kesehatan masyarakat. Namun demikian masih banyak permasalahan-permasalahan yang harus dihadapi dan diatasi untuk meningkatkan derajat kesehatan tersebut (Depkes RI, 2005:1). Dalam menentukan derajat kesehatan masih mengalami dilema yang cukup besar dimana saat ini AKI dan AKB masih tinggi dibandingkan dengan Negara ASEAN lainnya. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002, menunjukan bahwa di Indonesia, AKI sebanyak 307 per 100.000 kelahiran hidup dan 35 per 1000 kelahiran hidup untuk AKB. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama (Syaifuddin, 2002:122) Salah satu sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2010 adalah menurunkan Angka Kematian Maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Neonatal menjadi 16 per 1.000 kelahiran hidup, untuk mencapai sasaran tersebut ditetapkan 4 strategi utama dan azaz-azaz pedoman operasionalisasi strategi antara lain bahwa MPS memusatkan perhatiannya pada pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang baku, cost effecif , dan berdasarkan bukti (evidence based), pada semua tingkat pelayanan dan rujukan kesehatan, baik disektor pemerintah maupun swasta (Syaifuddin, 2002:v). AKI di Propinsi Jambi berdasarkan hasil sementara Survey Kesehatan Nasional (Suskesnas) 2006 Jambi mengalami penurunan dari 215,8 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2003 menjadi 214,8 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2004. Diharapkan sasaran pembangunan kesehatan di Propinsi Jambi pada tahun 2005 AKI mencapai 187,2 per 100.000 kelahiran hidup dan pada tahun 2006 mencapai 178,4 per 100.000 kelahiran hidup (Dinkes Propinsi Jambi, 2006). Laporan Dinas Kesehatan Kota Jambi, pada tahun 2005 terdapat 2 orang kematian ibu melahirkan dari 10.993 kelahiran hidup dan pada tahun 2006 terdapat 1 orang dari 11.426 kelahiran hidup (Dinkes Kota Jambi, 2006). Survey awal yang dilakukan pada tanggal 10 November 2007 di ruang bersalin Puskesmas Putri Ayu, dari Januari sampai Oktober 2007 dengan jumlah ibu bersalin 318 orang diantaranya 290 orang bersalin normal dan 28 orang bersalin pathologis (kasus partus lama dan perdarahan ). Semua persalinan yang ada di puskesmas putri ayu ditolong oleh bidan atau tenaga kesehatan, akan tetapi pelaksanaan asuhan manajemen postpartum belum diketahui secara menyeluruh . Tingginya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang ada di Kota Jambi ( Pada tahun 2006 sebesar 89,1 % atau 10,185 persalinan dari 12,571perkiraan persalinan ) Belum berarti pelaksanaan manajemen post partum dapat dilaksanakan dengan baik. Oleh karena itu peneliti berniat untuk mengetahui gambaran pelaksanaan manajemen postpartum di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2007. B. Rumusan Masalah Pelaksanaan manajemen postpartum di Puskesmas Putri Ayu oleh bidan, masih ada yang belum melaksanakan secara efektif yaitu belum sesuai dengan standar pelayanan kebidanan. Hal ini mungkin disebabkan para bidan belum mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan standar pelayanan kebidanan seperti Asuhan Persalinan Normal(APN). Sehingga masih ditemukan bidan melaksanakan asuhan belum sesuai dengan standar pelayanan kebidanan. Berdasarkan permasalah tersebut maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan bidan dalam pelaksanaan manajemen postpartum di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2007. Berdasarkan permasalahan tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana gambaran pengetahuan bidan tentang pelaksanaan manajemen postpartum di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2007. 2. Bagaimana gambaran sikap bidan tentang pelaksanaan manajemen postpartum di Puskesmas Putri Ayu Kota jambi Tahun 2007. 3. Bagaimana gambaran tindakan bidan tentang pelaksanaan manajemen postpartum di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2007 C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Diperolehnya gambaran pelaksanaan manajemen postpartum di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2007. 2. Tujuan Khusus a. Diperolehnya gambaran pengetahuan bidan tentang pelaksanaan manajemen postpartum di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2007. b. Diperolehnya gambaran sikap bidan tentang pelaksanaan manajemen postpartum di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2007. c. Diperolehnya gambaran tindakan bidan tentang pelaksanaan manajemen postpartum di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi Tahun 2007. D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Dinas Kesehatan Kota Jambi Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai bahan masukan dalam perencanaan dan penentuan kebijakan dalam meningkatkan pelaksanaan manajemen postpartum. 2. Bagi Puskesmas Putri Ayu Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan dalam memberikan pelayanan kepada ibu postpartum dan sebagai bahan masukan dan informasi tentang hal yang menyangkut pelayanan pada ibu bersalin dan nifas khususnya postpartum. 3. Bagi Responden Sebagai bahan acuan dalam pelaksanaan manajemen postpartum 4. Bagi Peneliti Lain Sebagai bahan masukan untuk peneliti lainnya dalam masalah yang sama dengan variabel yang berbeda. E. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional, yaitu untuk mengetahui gambaran pengetahuan,sikap dan tindakan bidan dalam pelaksanaan manajemen postpartum di Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi bulan Januari 2008, dengan menggunakan analisa univariat. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner. Populasi adalah semua bidan yang bertugas pada ruangan rawat inap Puskesmas Putri Ayu Kota Jambi tahun 2007 sebanyak 22 orang. Sampel adalah bidan yang bertugas pada ruang bersalin Puskesmas Putri Ayu tahun 2007 sebanyak 11 orang.

Senin, 16 Agustus 2010

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU MENYUSUI TENTANG CARA


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menyusui adalah suatu proses alamiah. Berjuta-juta ibu di seluruh dunia berhasil menyusui bayinya tanpa pernah membaca buku tentang ASI bahkan ibu yang Walaupun demikian dalam lingkungan kebudayaan kita saat ini melakukan hal yang alamiah tidaklah selalu mudah (Utami Roesli, 2000).
Pemberian ASI yang baik adalah sesuai kebutuhan bayi istilahnya on demand, kalau ASI diberikan pada saat anak sudah menangis sebenarnya itu sudah terlambat. Keberhasilan menyusui harus diawali dengan kepekaan terhadap waktu yang tepat saat pemberian ASI. Kalau diperhatikan sebelum sampai menangis bayi sudah bisa memberikan tanda-tanda kebutuhan akan ASI berupa gerakan-gerakan memainkan mulut dan lidah atau tangan di mulut. Ketepatan waktu saja tidak cukup, tak jarang kegagalan dalam menyusui terjadi. Kegagalan biasanya disebabkan karena teknik dan posisi yang kurang tepat bukan karena produksi ASI-nya yang sedikit. Kegagalan teknik menyusui bisa terjadi karena bayi yang bersangkutan pernah menggunakan dot (www.tabloidnakita.com).
Kendala terhadap pemberian ASI telah teridentifikasi, hal ini mencakup faktor-faktor seperti kurangnya informasi dan praktik-praktik rumah sakit yang merugikan seperti pemberian air dan suplemen bayi tanpa kebutuhan medis, kurangnya perawatan tindak lanjut pada periode pasca kelahiran dini, kurangnya dukungan dari masyarakat luas (Maribeth Hasselquist, 2006).
Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami berbagai masalah, hanya karena tidak mengetahui cara-cara yang sebenarnya sangat sederhana, seperti cara menaruh bayi pada payudara ketika menyusui, isapan yang mengakibatkan puting terasa nyeri dan masih banyak lagi masalah lain. Untuk itu seorang ibu butuh seseorang yang dapat membimbingnya dalam merawat bayi termasuk dalam menyusui. Orang yang dapat membantunya terutama adalah orang yang berpengaruh besar dalam hidupnya atau disegani seperti suami, keluarga atau kerabat atau kelompok ibu-ibu pendukung ASI dan dokter atau tenaga kesehatan. Untuk mencapai keberhasilan menyusui diperlukan pengetahuan mengenai teknik-teknik menyusui yang benar (Soetjingsih, 1997).
Berdasarkan data dari Bidan Desa Tanjung Muda pada bulan (Januari 2009 - Februari 2009) terdapat 54 orang ibu menyusui, yang mengalami masalah 34 orang ibu menyusui dengan uraian: puting susu lecet 17 orang, payudara bengkak 12 orang, bendungan ASI 5 orang. Dengan banyaknya masalah seperti puting susu lecet, payudara bengkak dan bendungan ASI membuat Ibu merasa tidak nyaman dalam memberikan ASI kepada Bayinya bahkan ada 3 Orang Ibu berhenti memberikan ASI lagi kepada Bayinya.
Dengan cara menyusui yang benar masalah-masalah seperti payudara bengkak, puting susu lecet, radang payudara, air susu kurang, bayi bingung puting (karena pemakaian dot atau kompeng) tidak ditemukan lagi/diminimalkan.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengetahuan ibu menyusui tentang cara menyusui yang benar di Desa Tanjung Muda Kecamatan Hamparan Rawang Kabupaten Kerinci

B. Rumusan Masalah dan pertanyaan penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah adalah: “ Masih rendahnya pengetahuan ibu menyusui tentang cara menyusui yang benar di Desa Tanjung Muda
Pertanyaan peneliti adalah: Bagaimanakah gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang cara menyusui yang benar

C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang cara menyusui yang benar di Desa Tanjung Muda Kecamatan Hamparan Rawang Kabupaten Kerinci tahun 2009




D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Puskesmas Rawang
Sebagai informasi bahwa di wilayah kerja Puskesmas Rawang ada ibu-ibu yang tidak menyusui dengan benar
2. Bagi Bidan Desa
Untuk ibu bidan di desa Tanjung Muda agar lebih memberikan penyuluhan pada semua ibu-ibu menyusui serta mengajari cara menyusui yang benar
3. Bagi Peneliti Lain
Penelitian ini di harapkan dapat di gunakan sebagai acuan untuk melakukan penulisan Karya Tulis Ilmiah.

E. Lingkup Penelitian
Penelitian ini adalah deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang cara menyusui yang benar di Desa Tanjung Muda Kecamatan Hamparan Rawang Kabupaten Kerinci tahun 2009.
Responden dalam penelitian ini adalah 54 orang ibu menyusui, pengumpulan data akan dilakukan pada bulan Juli 2009 melalui wawancara dengan menggunakan kusioner


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengetahuan
Pengetahuan adalah Hasil tahu dan ini terjadi melalui panca indra manusia ( Notoatmodjo, 2003 ).
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu : penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002). Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan yaitu:
1. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai kemampuan untuk mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk diantaranya adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tau apa yang telah dipelajari antara lain, menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasikan, menyatakan dan sebagainya.
2. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi dapat diartikan juga sebagai penggunaan atau aplikasi hukum-hukum, rumus metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks dan situasi yang lain.
4. Analisis (analysis)
Analisis diartikan sebagai kemampuan untuk menyebarkan materi untuk suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya.
5. Sintesis (synthesis),
Sintesis adalah suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru dengan kata lain suatu kemampuan untuk menyusu suatu formulasi baru dari formula-formula yang ada.

6. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi yaitu kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. Penelitian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau kriteria-kriteria yang telah ada (Notoatmodjo, 1997).

B. Ibu Menyusui
Ibu menyusui adalah ibu yang memberikan air susu kepada bayi dan sebagainya untuk diminum dari buah dada (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
1. Pengertian Air Susu Ibu (ASI)
ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein lactase dan garam-garam organik yang disekresikan oleh kedua belah kelenjar payudara ibu sebagai bahan makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih, 1997).
Pada bayi normal bayi sudah dapat disusui segera setelah lahir. Lama disusui satu dua menit pada setiap payudara. Dengan menghisapnya bayi terjadi perangsangan pembuatan air susu dan secara tidak langsung rangsangan isap membantu proses pengecilan uterus. Air susu yang pertama keluar disebut colostrum. Walau hanya dihisap beberapa tetes tetapi sudah cukup untuk kebutuhan bayi pada hari-hari pertama kehidupannya. Pada hari ke-3, bayi sudah harus menyusu selama 10 menit pada mamae ibu dengan jarak waktu 3-4 jam (Ilmu Kesehatan Anak, Jilid 3 ).
Pemberian ASI merupakan hal yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi pada umur 6 bulan pertama kehidupanya. Jika ada pemberian ASI masa ini bayi dapat kekurangan gizi dan mudah terserang penyakit. Keadaan ini akan berdampak pada anak dikemudian hari bahkan dapat berakibat pada kematian. Masalah pemberian ASI pada bayi muda cukup bulan biasanya berkaitan dengan jumlah asupan ASI yang kurang. Masalah pemberian ASI pada bayi kurang bulan biasanya berkaitan dengan jumlah asupan ASI yang kurang. Masalah pemberian ASI pada bayi kurang bulan biasanya terkait dengan reflek hisap yang belum sempurna (MTBS, Modul 6)
a. Reflek Pembentukan/Produksi dan Pengeluaran ASI
Pada ibu yang menyusui dikenal dengan 2 reflek yang masing-masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu :
1) Reflek Prolaktin:
“ Prolaktin: dirangsang hormon prolaktin kelenjar hipofise bagian depan di dasar otak. Proses pengisapan merangsang ujung syaraf disekitar payudara, saraf ini membawa pesan kebagian depan kelenjar hipophisa untuk memproduksi prolaktin, prolaktin dialirkan oleh darah ke kelenjar payudara untuk merangsang pembuatan ASI”.
2) Reflek “Let Down”
“Isapan bayi merangsang saraf sekitar payudara, saraf membawa pesan ke bagian belakang kelenjar hipofise, keluar hormon oksitosin dialirkan darah, kontraksi sel-sel mioepitel sekitar alveoli dan duktus lactiferous mendorong ASI keluar dari alveoli melalui duktus lactiferous melalui sinus lactiferus”.
b. Mekanisme Menyusui
Bayi yang sehat memiliki 3 reflek intrinsic keberhasilan menyusui seperti :
1) Reflek mencari (Rooting reflek)
Puting atau tangan diletakkan pada pipi disekitar mulut, maka akan menimbulkan reflek mencari pada bayi.
2) Reflek menghisap (Sucking reflek)
Rahang menekan kalang payudara dengan bantuan bibir secara berirama, gusi akan menjepit kalang payudara dan sinus lactiferous, sehingga air susu akan mengalir.
3) Reflek menelan (swallowing reflek)
Pada saat air susu keluar dari puting susu akan disusul dengan gerakan menghisap sehingga air susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan dan masuk ke lambung (Soetjiningsih, 1997)
2. Pembentukan dan Persiapan ASI
Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Pada kehamilan, payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjar-kelenjar payudara yang dirasakan tegang dan sakit. Bersamaan dengan membesarnya kehamilan, perkembangan dan persiapan untuk memberikan ASI makin tampak. Payudara makin besar, puting susu makin menonjol, pembuluh darah makin tampak, dan aerola mamae makin menghitam.
Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan
a. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
b. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
c. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi.

3. Langkah-langkah Menyusui yang Benar
Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan disekitar puting, duduk dan berbaring dengan santai.




Gambar 2.1. Cara meletakan bayi (Perinasia, 2004)

Gambar 2.2. Cara memegang payudara (Perinasia, 2004)

Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi, jangan hanya leher dan bahunya saja, kepala dan tubuh bayi lurus, hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, dekatkan badan bayi ke badan ibu, menyetuh bibir bayi ke puting susunya dan menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar.

Gambar 2.3. Cara merangsang mulut bayi (Perinasia, 2004)

Segera dekatkan bayi ke payudara sedemikian rupa sehingga bibir bawah bayi terletak di bawah puting susu.Cara melekatkan mulut bayi dengan benar yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dan bibir bawah bayi membuka lebar.

Gambar 2.4. Perlekatan benar (Perinasia, 2004)

Gambar 2.5. Perlekatan salah (Perinasia, 2004)

4. Cara Pengamatan Teknik Menyusui Yang Benar
Teknik menyusui yang tidak benar dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga mempengaruhi produksi ASI selanjut¬nya atau bayi enggan menyusu. Untuk mengetahui bayi telah menyusu dengan teknik yang benar, dapat dilihat:
a. bayi tampak tenang,
b. badan bayi menempel pada perut ibu,
c. mulut bayi terbuka lebar,
d. dagu menempel pada payudara ibu,
e. sebagian besar payudara masuk ke dalam mulut bayi,
f. bayi tampak menghisap kuat dengan irama perlahan,

g. puting susu ibu tidak terasa nyeri,
h. telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus,
i. kepala tidak menengadah. (ASI, Soetjiningsih, 1997)








Gambar 2.6 cara menyusui yang benar
j. melepas isapan bayi
Setelah menyusui pada satu payudara sampai payudara terasa lembek, sebaiknya diganti dengan payudara yang satunya. Cara melepas isapan bayi:
1) Jari kelingking ibu dimasukkan ke mulut bayi melalui sudut mulut atau,
2) Dagu bayi ditekan ke bawah.
k. Setelah selesai menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan di sekitar payudara; biarkan kering dengan sen¬dirinya.

l. menyendawakan bayi.
Tujuan menyendawakan bayi adalah mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak muntah (gumoh - Jawa) setelah menyusui. Cara menyen-dawakan bayi adalah:
1) Bayi digendong tegak dengan bersandar pada bahu ibu, kemudian punggung ditepuk perlahan-lahan,
2) Bayi tidur tengkurap di pangkuan ibu kemudian punggungnya ditepuk perlahan-lahan. (Mary Beth Hasselauist, 2006)

5. Posisi dan perlekatan menyusui
Terdapat berbagai macam posisi menyusui. Cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri atau berbaring

Gambar 2.7. Posisi menyusui sambil berdiri yang benar (Perinasia,1994)




Gambar 2.8 Posisi menyusui sambil duduk yang benar (Perinasia, 1994)

Gambar 2.9. Posisi menyusui sambil rebahan yang benar (Perinasia, 1994)
Ada posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti ibu pasca operasi sesar. Bayi diletakkan disamping kepala ibu dengan posisi kaki diatas. Menyusui bayi kembar dilakukan dengan cara sepertimemegang bola bila disusui bersamaan, dipayudara kiri dan kanan. Pada ASI yang memancar (penuh), bayi ditengkurapkan diatas dada ibu, tangan ibu sedikit menahan kepala bayi, dengan posisi ini bayi tidak tersedak.
.
Gambar 2.10. Posisi menyusui balita pada kondisi normal (Perinasia, 1994)

Gambar 2.11.Posisi menyusui bayi baru lahir di ruang perawatan (Perinasia,2004)


Gambar 2.12Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di rumah (Perinasia, 2004)

Gambar 2.13. Posisi menyusui bayi bila ASI penuh (Perinasia, 2004)

Gambar 2.14. Posisi menyusui bayi kembar secara bersamaan (Perinasia, 2004)


6. Lama dan frekuensi menyusui
Sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusui bayi dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bilabayi menangis bukan karena sebab lain (kencing, kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1 – 2 minggu kemudian.
Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tanpa jadwal, sesuai kebutuhan bayi akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari. Bila sering disusukan pada malam hari akan memicu produksi ASI.
Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap kali menyusui harus dengan kedua payudara. Pesankan kepada ibu agar berusaha menyusui sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik. Setiap kali menyusui, dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan. Selama masa menyusui sebaiknya ibu menggunakan kutang (BH) yang dapat menyangga payudara, tetapi tidak terlalu ketat.

Gambar 2.15. Kutang (BH) yang baik untuk ibu menyusui (Perinasia, 2004)

7. Tanda Bayi Cukup ASI
Bayi kencing setidaknya 6 x dalam 24 jam dan warnanya jernih sampai kuning muda, bayi sering BAB berwarna kekuningan “berbiji”, bayi tampak puas, sewaktu-waktu merasa lapar, bangun dan cukup tidur, menyusu 10-12 x dalam 24 jadi, payudara ibu terasa lembut setiap kali selesai menyusui. Ibu dapat merasakan geli karena aliran ASI setiap kali bayi mulai menyusu. Bayi bertambah berat badannya, adapun Tanda-tanda menyusui yang tidak efektif adalah:
a. Bibir bayi mengkerut meskipun ia menghisap dengan sedotan
b. Bibirnya kelihatan tenggelam, karena jaringan susu tidak cukup mengisi mulutnya.
c. Terdengar bunyi ceklekan selama menyusui
d. Anda tidak mendengarnya menelan
e. Ia tergelincir dari payudara dengan penuh ketakutan
f. Putting susu merasa sakit setelah menit pertama.
(Mary Beth Hasselauist, 2006)
g. Bayi mengisap dengan isapan yang cepat dan dangkal
h. Dapat terlihat lakukan pada pipi
i. Bayi tampak belum kenyang dan tidak tenang, ia akan menangis dan mencoba untuk mengisap. (Emelia-Hamzah, 2001)

8. Masalah-masalah yang Timbul dalam Masa Laktasi
a. Puting datar atau terbenam
Mengatasinya dapat dilakukan dengan jalan menarik-narik puting, sejak hamil harus menyusui agar sering tertarik.



b. Puting lecet (sore or cracked nipples)
Puting mengalami lecet, retak atau terbentuk celah. Hal ini dapat hilang dengan sendirinya jika ibu merawat payudara secara baik dan teratur. Caranya :
1) Olesi puting susu dengan ASI setiap kali akan dan sudah menyusui, hal ini mempercepat sembuhnya lecet dan rasa perih
2) Jangan menggunakan BH yang terlalu ketat
3) Jangan membersihkan puting dan aerola dengan sabun, alcohol dan obat-obatan yang merangsang putting susu.
4) Posisi menyusui yang bervariasi, jika dengan posisi yang sama dapat membuat trauma yang terus-menerus di tempat yang sama sehingga memudahkan terjadinya lecet, adapun cara mengatasi puting lecet:
a. Jika rasa nyeri dan lecet tidak terlalu berat, ibu dapat menyusui pada daerah yang tidak nyeri. Untuk mengurangi rasa sakit, oles puting susu dengan es beberapa saat. Proses menyusui dengan tenang dan bernafas dalam-dalam sampai ASI mengalir keluar dan rasa perih berkurang
b. Jika rasa nyeri berlangsung hebat atau luka semakin berat, putting yang sakit diistirahatkan selama 24 jam. ASI tetap dikeluarkan dengan tangan (diperah) dan diberikan kepada bayi.

c. Payudara bengkak (Breast Engorgement)
Terjadi karena hambatan aliran vena atau saluran kelenjar getah bening akibat ASI terkumpul dalam payudara. Untuk mengatasinya :
1) Kompres payudara dengan handuk hangat, masase ke arah putting, hingga payudara terasa lemas dan ASI dapat keluar melalui puting, hingga payudara terasa lemas dan ASI dapat keluar melalui puting.
2) Susukan bayi tanpa dijadwal sampai payudara terasa kosong
3) Urut payudara mulai dari tengah lalu kedua telapak tangan ke samping, ke bawah dengan sedikit ke atas dan lepaskan dengan tiba-tiba.
4) Keluarkan ASI sedikit dengan tangan agar payudara menjadi lunak dan putting susu menonjol keluar
5) Susukan bayi lebih sering
d. Saluran susu tersumbat (Obstructed duct)
Timbul karena tekanan jari pada waktu menyusui, pemakaian BH yang terlalu ketat, adanya komplikasi payudara bengkak yang tidak segera diatasi. Jika ibu merasa nyeri, payudara dapat dikompres dengan air hangat sebelum menyusui dan setelah menyusui untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak.

e. Mastitis dan Abses Payudara
Mastitis adalah peradangan pada payudara. Bagian yang terkena menjadi merah, bengkak, nyeri dan panas. Suhu meningkat kadang-kadang disertai menggigil. Terjadi pada masa 1-3 minggu setelah melahirkan. Cara mengatasinya berkonsltasi pada dokter untuk mendapatkan terapi antibiotic dan obat penghilang rasa sakit. Ibu harus banyak beristirahat dan tetap menyusui bayinya.
Mastitis yang tidak diobati akan berlanjut ke abses, ibu tampak kesakitan, payudara merah mengkilap, dan benjolan mengandung cairan berupa nanah. Sementara berhenti menyusu pada bagian yang terkena, susukan bayi pada payudara yang sehat. Dokter melakukan tindakan pengeluaran nanah dan memberi antibiotic serta obat penahan rasa sakit (Puspa Swara, 2003).

9. Beberapa masalah yang sering terjadi ketika bayi menyusui
a. Bayi Bingung Puting
Keadaan bayi yang mengalami nipple confusion karena diberi susu formula dalam botol bergantian dengan menyusu pada ibu. Bila bayi menyusu pada ibu, bayi harus bekerja keras untuk menarik dan mengurut puting dan aerola sehingga keluar ASI. Tidak demikian dengan dot, dot mempunyai lubang sehingga tanpa berusaha keras dapat menelan susu tanpa diisap. Tanda bingung puting antara lain :
1) Bayi menghisap puting seperti menghisap dot
2) Waktu menyusu terputus-putus/sebentar-sebentar menyusu
3) Bayi menolak menyusu pada ibu.
Cara mencegah puting susu antar lain usahakan bayi untuk menyusu pada ibu, proses menyusui lebih sering, lebih lama tanpa terjadwal, lakukan penyusuan dengan lebih sabar, teliti dan telaten.
b. Bayi enggan menyusu
Bayi perlu mendapat perhatian khusus jika ia enggan menyusu terutama jika muntah, diare, mengantuk, kuning, dan kejang-kejang.
Penyebab bayi enggan menyusu :
1) Hidung tertutup lendir/ingus karena pilek sehingga sulit untuk mengisap/ bernafas.
2) Terlambat mulai menyusui, bayi ditinggal lama karena ibu sakit / bekerja
3) Bayi di samping diberi ASI diberi dot juga
4) Bayi dengan prelateal feeding atau mendapat makanan tambahan terlalu dini.
5) ASI kurang lancar/terlalu deras
6) Bayi dengan frenulum linguage (tali lidah) pendek yang disebut dengan short tongue tie.
c. Bayi sering menangis
Mungkin karena lapar, takut, kesepian, bosan, popok basah / kotor. 84% dapat ditanggulangi dengan cara menyusui bayi dengan tehnik yang benar sampai tangis bayi dapat dihentikan, kecuali jika bayi sakit perlu mendapat penanganan tersendiri.
d. Bayi Kembar
Bayi dapat disusukan bersama atau bergantian, jika bersamaan ibu dapat mengambil posisi “memegang bola”, kombinasi atau biasa. Posisi memegang bola : memegang kepala dengan satu tangan, badan bayi berada di lengan ibu dengan kedua kaki ke arah punggung ibu, dipakai pad saat menyusui secara bersamaan.
Posisi kombinasi : satu bayi disusukan secara biasa, sedangkan bayi yang lain dengan posisi memegang bola. Posisi biasa : dengan cara memangku bayi dengan kepala/tengkuk berada pada siku ibu bagian dalam.
e. Bayi sumbing
Bayi dengan sumbing, langit-langit lembek (palatum mole) dapat menyusu tanpa kesulitan dengan cara : dengan memberikan posisi tegak atau berdiri agar ASI tidak masuk ke dalam hidung bayi. Apabila sumbing itu hanya pada bibir atas saja, bayi dapat menyusu sambil ibu menutup sumbing tersebut dengan jari agar bayi dapat menghisap dengan sempurna. Hal paling sulit terjadi jika sumbing ganda atau, yaitu pada langit-langit keras (palatum durum) dan bibir sehingga bayi sulit menghisap/menangkap puting susu dengan sempurna.
Jika posisi seperti tersebut ASI dapat dikeluarkan dengan manual/pompa dan diberikan dengan sendok, pipet/botol dot, yang mempunyai bentuk seperti putting susu sapi atau kambing, jika sulit mendapatkannya, gunakan dua dot yang disambung sehingga ukuranya lebih panjang.

10. Keunggulan ASI terhadap Susu Lainnya.
b. Murah, sehat, dan mudah memberikannya
c. Mengandung zat yang dapat meninggikan daya tahan anak terhadap penyakit.
d. Mengandung cukup banyak makanan yang diperlukan oleh bayi
e. Menyusui berarti menjalin kasih sayang ibu terhadap anak.
f. Menyusui mempercepat ibu menjadi langsung kembali sesudah melahirkan
(file : ii c :/ docume~1/micros~1/local~1/rem/oxe 1300e%.html).
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

A. Kerangka Konsep
Kerangka konsep penelitian ini mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Soetjiningsih tahun 1997 (hal. 2) untuk mencapai keberhasilan menyusui diperlukan pengetahuan mengenai teknik-teknik menyusui yang benar. Maka dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang cara menyusui yang benar di desa Tanjung Muda Kecamatan Hamparan Rawang Kabupaten Kerinci Tahun 2009. Kerangka konsep adalah sebagai berikut :



Bagan. 1 Kerangka Konsep Penelitian






B. Definisi Operasional
Defenisi operasional digunakan untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel diamati atau diteliti. Definisi operasional ini juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran dan pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta pengembangan instrumen atau alat ukur (Notoatmodjo, 2005).
Tabel 1. Definisi Operasional
No Variabel Definisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil ukur Skala
1 Pengetahuan Segala sesuatu yang ibu Ketahui tentang cara menyusui yang benar Wawancara Kuesioner - Sangat baik
(skor 81-100)
- Baik
(skor 61-80)
- Cukup
(skor 41-60)
- Kurang
(skor 21-40)
- Sangat kurang
(skor 0-20) Ordinal
2 Ibu Menyusui adalah ibu yang memberikan air susu kepada bayi untuk diminum dari buah dada (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran ibu menyusui. Penelitian deskriptif, adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskriptif tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo, 2005).
B. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo 2005). Berdasarkan pendapat di atas maka yang akan menjadi populasi dalam penelitian ini adalah ibu menyusui yang berada di Desa Tanjung Muda Kecamatan Hamparan Rawang sebanyak 54 orang
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti apabila populasi < 100 maka seluruh populasi dijadikan sampel (Arikunto, 2002: 112) Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah semua Ibu menyusui yang berjumlah 54 Orang


C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu dengan melakukan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara.
D. Pengolahan Data
Setelah data terkumpul melalui angket atau kuisioner maka dapat dilakukan pengolahan data melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Seleksi Data (Editing)
Dimana penulis akan melakukan penelitian terhadap data yang diperoleh dan diteliti apakah terdapat kekeliruan atau tidak dalam penelitian.
2. Pemberian Kode (Coding)
Setelah dilakukan editing, selanjutnya penulis memberikan kode tertentu pada tiap-tiap data sehingga memudahkan dalam melakukan analisis data.
3. Scoring
Untuk mengetahui pengetahuan responden digunakan skor maksimal setiap pertanyaan yang dijawab benar diberi skor 1 dan pertanyaan yang dijawab salah atau tidak dijawab diberi skor 0, sehingga dari 20 pertanyaan skor maksimal 100.
a. Sangat Baik : jumlah skor 81-100
b. Baik : jumlah skor 61-80
c. Cukup : jumlah skor 41-60
d. Kurang : jumlah skor 21-40
e. Sangat Kurang : jumlah skor 0-20
(Arikunto, 2005).
4. Pengelompokan Data (Tabulating)
Pada tahap ini jawaban-jawaban responden yang sama dikelompokan dengan teliti dan teratur lalu dihitung dan dijumlahkan kemudian dituliskan dalam bentuk tabel-tabel.
E. Analisis Data
Teknik yang digunakan pada penelitian ini adalah analisa univariate dimana data yang disajikan dalam betuk tabel berdasarkan Distribusi Frekwensi dari variabel yang di teliti meliputi gambaran Pengetahuan ibu tentang cara menyusui yang benar.


Keterangan:
P = Presentase
F = Frekuensi
N = Jumlah keseluruhan responden
100% = Konstanta
(Eko Budiarto, 2002)
DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, S 2003.
Prosedur Penelitian Satu Pendekatan Praktek. Edisi V.Jakarta:
Rineka \cipta

Azwar Azrul, 2005.
Manajemen Laktasi. Jakarta: Depkes RI.

Depkes RI Dirjen Binkesmas Direktorat Gizi Masyarakat. 2004
.Asi Eksklusif Untuk Ibu Bekerja.Jakarta

Hubertin, S, 2004.
Konsep Penerapan ASI Eksklusif, Cetakan I. EGC:Jakarta.

Khairunniyah, 2004,
Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif Ditinjau Dari factor Motivasi,
Laporan Tahunan Puskesmas Rawang , 2008

Notoatmodjo,S,2005
Metodelogi Penelitian Kesehatan,Cetakan Ketiga.RinekaCipta :Jakarta.

Perinasia,1994.
Melindungi,Meningkatkan dan Mendukung Menyusui,Cetakan Ke-
2.Bina Rupa Akasara:Jakarta.

Pilliteri,Adele,2002.
Perawatan Kesehatan Ibu dan Anak.Jakarta:EGC Profil

Purwanti, 2004
. Konsep Penerapan ASI ekslusif. Buku Kedokteran. Jakarta : EGC

Prawirohardjo Sarwono, 2002.
Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka

Roesli,Utami,2004.
Mengenal ASI Eksklusif,Seri I.Jakarta.

Saifuddin,A.B,2001
.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Matemal dan
Neonatal.JMPKKF-POGI dan Yayasan Bina Pustaka.Jakarta.

Soetjiningsih, 1977.
ASI Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta : EGC

Soetjiningsih, 1995.
Tumbuh Kembang Anak. EGC: Jakarta

WHO,2003.
Mastitis Penyebab dan Penatalaksanaan. Widya Medika. Jakarta
www.sahabatnestle.co.id/home/hain/tksk/ndnmp.asp Diakses 25 juni 2009